Jumat, 27 Oktober 2017

Makalah Koperasi

TUGAS MAKALAH
EKONOMI KOPERASI 2






FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS GUNADARMA
DEPOK
2017


KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmatNYA sehingga makalah ini dapat tersusun hingga selesai . Tidak lupa kami juga mengucapkan banyak terimakasih atas bantuan dari pihak yang telah berkontribusi dengan memberikan sumbangan baik materi maupun pikirannya.
Dan harapan kami semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca, Untuk ke depannya dapat memperbaiki bentuk maupun menambah isi makalah agar menjadi lebih baik lagi.
Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman kami, Kami yakin masih banyak kekurangan dalam makalah ini, Oleh karena itu kami sangat mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.




                                                                                       Depok, Oktober 2017

                                                                                              
Penyusun




DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ......................................................................................... i
DAFTAR ISI ......................................................................................................... ii

BAB I :
PENDAHULUAN ............................................................................................... 1
1.1  Partisipasi Dalam Koperasi ......................................................................... 1
1.2  Masalah Partisipasi ...................................................................................... 2
1.3  Biaya Partisipasi ........................................................................................... 5
BAB II :
PEMBAHASAN MASALAH ............................................................................ 9
2.1 Pendekatan Kinerja Structure Conduct .................................................... 9
2.2 Koperasi Dalam Persaingan Sempurna .................................................... 10
2.3 Ekuilibrium Usaha Koperasi Dalam Persaingan Sempurna .................. 10

BAB III :
PENUTUP ......................................................................................................... 12
3.1 Kesimpulan .................................................................................................. 12
DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................... 13


BAB 1
PENDAHULUAN

1.1  Partisipasi Dalam Koperasi
Partisipasi, bukan hanya bagian penting, tapi juga vital dalam pembangunan koperasi. Partisipasi tidak dapat diasumsikan sebagai suatu yang ‘’given’’ atau sesuatu yang demikian saja terjadi secara otomatis dalam keberadaan koperasi.

Terdapat banyak koperasi dengan tingkat partisipasi anggota yang rendah, namun beberapa di antaranya tetap dapat memberikan manfaat yang memuaskan bagi para anggotanya. Akan tetapi, tanpa partisipasi anggota, kemungkinan atas rendah atau menurunnya efisiensi dan efektivitas anggota dalam rangka mencapai kinerja koperasi, akan lebih besar.

Untuk alasan inilah partisipasi termasuk dalam uji koperasi komparatif, yaitu suatu koperasi mungkin saja sukses dalam persaingan, namun memberikan kinerja pelayanan yang minim bagi anggotanya.

Partisipasi dibutuhkan untuk mengurangi kinerja yang buruk, mencegah penyimpangan dan membuat pemimpin koperasi bertanggung jawab. Partisipasi anggota sering dianggap baik sebagai alat pengembangan maupun sebagai tujuan akhir itu sendiri. Beberapa penulis meyakini bahwa partisipasi adalah kebutuhan dan hak asasi manusia yang mendasar (Castilo, 1983 hal.466-7).

Manajemen koperasi tidak dapat diasumsikan memiliki informasi yang diperlukan setiap saat. Sebaliknya, informasi harus dicari. Mekanisme untuk menemukan  informasi, yang dibutuhkan untuk menyesuaikan pelayanan yang akan diberikan oleh koperasi bagi kepentingan/kebutuhan anggotanya, merupakan proses partisipasi juga.

Partisipasi pada hakikatnya tidak membuat joperasi berbeda dari organisasi yang tidak memiliki sifat/kriteria identitas. Jika suatu perusahaan menjual jasanya di pasar terbuka, maka perusahaan tersebut juga membutuhkan umpan balik dari pelanggan agar dapat bersaing dengan berhasil. Inti dari umpan balik ini adalah informasi mengenai jumlah produk/jasa yang dapat dijual oleh perusahaan jika pelanggan tidak puas, mereka akan membeli sedikit, dan dengan ini sebenarnya mereka telah memberikan informasi berharga bagi perusahaan untuk meningkatkan pelayanannya.

Dalam suatu koperasi, seluruh alat partisipasi ini adalah lazim, tetapi intensitas partisipasinya dapat lebih tinggi, sebab anggota bukan hanya merupakan pelanggan, tetapi juga sebagai pemilik perusahaan. Mereka dapat mempengaruhi dan mengawasi/ mengendalikan manajemen, bukan hanya dengan menahan permintaan, mengkritik pelayanan dan lain – lain, tetapi juga dalam peran mereka selaku pemilik, yaitu jika perlu, memecat manajemen koperasi mereka

Dalam kondisi bagaimana para pelanggan dari suatu perusahaan menganggap bahwa memakai kekuatan mereka atas perusahaan lain melalui keputusan untuk membeli atau tidak adalah tidak cukup untuk melindungi kepentingan mereka

1.2  MASALAH PARTISIPASI
Variabel terpenting yang akan ditelaah dalam koperasi adalah pertanggung jawaban (UpHoff,1986, hal. 129). Seringkali koperasi hanya “koperasi” dalam nama saja, sebagaimana dikatakan oleh UpHoff :
·         Fungsi koperasi tidak seperti yang dinilai atau yang dimengerti oleh anggota.
·         Struktur organisasi dan proses pengambilan keputusan sulit dimengerti dan dikendalikan, kompleksitas organisasi terlalu tinggi.
·         Tujuan koperasi, menurut sudut pandang anggota, terlalu sempit.
·         Koperasi dijalankan sebagai tanggapan atas kepentingan manajer atau para pemimpin lainnya, atau sebagai tanggapan atas kepentingan dan arahan dari pemerintah.
·         Koperasi terbuka juga bagi non-anggota dan usaha-non anggota ini mungkin justru akan menyerap sebagian sumber daya koperasi yang penting.
Sebagian orang mungkin berpendapat bahwa partisipasi anggota tidak perlu, karena :
1.      Kepemimpinan koperasi dapat bertindak secara alami menurut/sesuai dengan kepentingan anggota
2.      Anggota sebagai pemilik koperasi bagaimana pun akan dapat mengawasi kegiatan koperasi.

Dua hal diatas dapt menghindari konflik antara pemimpin dan anggota koperasi, atau mereka mengasumsikan hubungan yang harmonis abtara manajemen/pimpinan dan anggota koperasi. Hubungan antara kepemilikan dan manajemen serta kontrol pada perusahaan, telah dibahas secara luas dalam ilmu ekonomi.

Jika hubungan antara pemilik dan manajemen diisolasi, terdapat empat kemungkinan bentuk yang akan dipakai perusahaan: perusahaan yang dikelola sendiri, kemitraan, perusahaan umum, dan koperasi. Hanya dalam perusahaan yang dikelola sendiri tidak terdapat masalah konflik kepentingan karena pemilik/pengelolanya adalah orang yang memiliki klaim atas pendapatan perusahaannya.

Teori-teori baru telah dikembangkan untuk memberikan suatu penjelasan ringkas mengenai masalah-masalah ini. Pembahasan yang lebih rinci mengenai “Ekonomi Biaya Transaksi”. Dalam masalah principal-agent yang mendasar, suatu pihak (principa, pemilik) membayar pihak lain (agent, manajer) untuk bekerja bagi kepentingannya. Principal secara umum dapat mengamati konsekuensi dari tindakan-tindakan agent, sedangkan informasi mengenai tindakan agent maupun lingkungan yang relevan lebih rendah dibandingkan dengan informasi yang dimiliki oleh agent, informasi orang-orang dalam perusahaan, sehingga yang menyulitkan dan mahal bagi principal untuk mengendalikan tindakan-tindakan agent yang dipekerjakannya.

Memiliki suatu perusahaan belom menjamin pengawasan atau pengelolaan manajemen perusahaan berjalan menurut kepentingan pemilik, kecuali jika orang yang memiliki perusahaan juga merupakan orang yang membuat keputusan-keputusan manajerial penting.

Teori koperasi tradisional mendasarkan argumennya pada pengendalian aktual manajemen koperasi oleh para anggotanya/pemiliknya. Akan tetapi, pengalaman di negara maju maupun di negara berkembang menunjukan dengan jelas bahwa “teori harmoni” merupakan gambaran realita yang naif dan sebaliknya diganti oleh “teori konflik”. Teori konflik memperhitungkan  adanya suatu konflik kepentingan antara manajemen dan para anggota, maupun konflik di antara para anggota itu sendiri. Jika koperasi dibina atau dibantu oleh pemerintah ataupun lembaga eksternal lainnya, konflik potensial tingkat tiga mungkin timbul, yaitu : suatu konflik kepentingan antara “promotor” eksternal disuatu pihak dan kelompok masyarakat koperasi, seperti manajemen dan anggota, dipihak lain.

Pengelompokan utama dalam suatu koperasi terdiri dari anggota, direksi, dan manajemen. Keanggotaan itu sendiri tidak perlu homogen, mungkin saja ada para pemegang saham yang tidak lagi melakukan hubungan dagang dengan koperasi tetapi masih bisa melakukan hak pilih, anggota yang sudah lama menggunakan layanan koperasi, maupun anggota-anggota baru. Volume usaha yang dilakukan anggota dengan koperasi bervariasi, sehingga pengguna jasa/pelanggan yang aktif mungkin akan memiliki kebutuhan dan aspirasi yang berbeda dari mereka yang tidak aktif.

Konflik mungkin juga terjadi antara direktorat dan eksekutif, terlebih lagi pada koperasi yang besar, multifungsi/usaha dengan struktur administrasi yang rumit dan kegiatan komersial yang luas.

Pembahasan lebih lanjut akan memperlihatkan bahwa kuantitas dan kualitas pengaruh koperasi sangat tergantung pada jenis solusi konflik yang akan memberikan manfaat.

1.3 Biaya Partisipasi
Partisipasi merupakan suatu alat untuk lebih memuaskan kebutuhan anggota. Dalam argumen ini, masalah biaya partisipasi mungkin akan menjadi masalah yang diperdebatkan, bahwa semakin tinggi partisipasi akan semakin tinggi pula kesejahteraan anggotanya. Akan tetapi, argumen ini akan berlaku hanya jika untuk berpartisipasi itu tidak memerlukan biaya, atau dengan kta lain, tidak menghabiskan sumber daya apa pun.

Jika besar manfaat partisipasi sudah ditentukan, maka “manfaat bersih” yang akan diproleh, tergantung pada biaya untuk berpartisipasi itu sendiri.

Biaya partisipasi tergantung pada waktu, energi, dan sumber-sumber daya langsung yang digunakan oleh anggota, manajemen, dan pemimpin koperasi untuk berpartisipasi dalam koperasinya. Partisipasi koperasi yang efektif bukan merupakan sesuatu yang gratis atau Cuma-Cuma, tetapi mahal bagi mereka yag memilih secara sukarela maupun yang diwajibkan, sebagai bagian dari tugas mereka, untuk berpartisipasi didalam koperasi. Partisipasi, menuntut investasi yang besar dan berkesinambungan atas waktu, energi, dan kebebasan pribadi untuk bertindak dari pihak yang berpartisipasi (jhonston/Clark 1982. Hal 171).

Faktor-fator apa saja yang menetukan biaya untuk berpartisipasi, ada tiga faktor yang akan dibahas secara terprinci yaitu ukuran koperasi, heterogenitas keanggotaan, dan jumlah fungsi koperasi yang bersangkutan.

1.      Ukuran Koperasi.
Hipotesis :
Semakin besar ukuran suatu koperasi, maka akan semakin tinggi biaya untuk berpartisipasi.
Alasannya :
1.      Dengan peningkatan jumlah anggota, maka keefektifan partisipasi berkurang karen untuk mencapai manfaat tertentu, semaki banyak sumber daya yang harus dipakai (misalnya keefektifan diskusi berkurang)
2.      Dengan peningkatan jumlah anggota, dapat diperkirakan akan lebih banyak waktu, energi maupun sumber-sumber daya yang digunakan untuk berpartisipasi.
3.      Dengan semakin tinggi biaya partisipasi, tanggapan yang rasional dari anggota adalah menurunkan tingkat partisipasinya sehingga menjadi anggota yang lebih pasif, dan akan lebih mengandalkan pihak-pihak lain dalam menjalankan tugasnya untk mengendalikan manajemen. Para anggota tersebut akan bertindak sebagai “penumpang gelap” mengandalkan anggota lainnya untk melakukan tugas partisipasi, namun mereka tetap berharap dapat menikmati manfaatnya.
4.      Tingkat profesionalisme manajerial akan meningkat sejalan dengan ukuran koperasi. Hal ini akan lebih menyulitkan dan membutuhkan banyak biaya lagi anggota untuk berpartisipasi.

Dari keempat faktor ini, dapat disimpulkan bahwa partisipasi anggota akan berkurang sejalan dengan meningkatnya ukuran keanggotaan dan karena itu dapat diharapkan terjadinya peningkatan dalam hal pengaruh manajemen semakin besar koperasi akan semakin berkuasa dan berpengaruhlah manajemen. Koperasi yang besar akan cenderung lebih dikuasai oleh manajemen.
2.      Struktur Keanggotaan
Hipotesis :
Semakin heterogen keanggotaan suatu koperasi, akan semakin tinggi biaya untuk berpartisipasi.

Struktur keanggotaan memiliki banyak dimensi seperti penghasilan, profesi, pendidikan, dan lain-lain, dimana yang lebih penting adalah penghasilan dan profesi.

Pemilihan keanggotaan adalah variabel yang peka dalam koperasi, karena koperasi sering dianggap sebagai suatu organisasi “terbuka” tidak seorangpun yang memenuhi kriteria untuk menjadi anggota dapat dihalangi untuk menjadi anggota baru atau terhalang untuk memasuki organisasi ini.

Jika koperasi terdiri dari anggota-anggota yang berbeda dari segi penghasilan , profesi, dan tingkat pendidikan, maka potensi terjadinya konflik antara anggota maupun anggota dengan manajemen, akan semakin tinggi dibanding dengan koperasi yang memiliki keanggotaan lebih homogen.

Kepentingan dan kemampuan individu untuk memanfaatkan fasilitas koperasi juga berlainan. Orang yang berbeda pula. Semakin heterogen sebuah koperasi, semakin tinggi pula potensi konflik yang terjadi. Ada beberapa konsekuensi yang timbul.

Pertama, semakin tinggi tingkat potensi konflik yang terjadi, semakin bayak smber daya koperasi dan anggota yang harus diinvestasikan dalam mempelajari serta menangani konflik.

Kedua, dengan kapasitas yang berbeda untuk berpartisipasi, khususnya dalam hal penghasilan, maka opportunity cost  untuk berpartisipasi antara-anggota, maka berbeda pula. Bagi anggota yang tidak mampu, sumber daya waktu, energi, dan materil yang harus digunakan/diinvestasikan untuk berpartisipasi mungkin memiliki opportunity cost  lebih tinggi, bila dibandingkan dengan anggota yang lebih mampu.




BAB II
PEMBAHASAN MASALAH


2.1               Pendekatan Kinerja Structure Conduct
Kebijakan harga pasar bagi koperasi dibandingkan pada aturan harga intra koperasi, misalnya berapa harga yang harus dibayar anggota pada koperasi pemasok dan berapa harga yang diterima anggota pada koperasi pemasaran. Pertanyaan yang timbul adalah bagaimana koperasi pada pasar yang berbeda dapat menyediakan manfaat ekonomi bagi anggota dibanding dengan perusahaan non-koperasi.

Ada dua pandagan teoritis yang dapat memanbantu menjawab pertanyaan di atas :
1.      Pendekatan pertama, model struktur pasar neo-klasik standar, adalah suatu pendekatan yang paling umum dipakai dalam literatur koperasi.
2.      Pendekatan kedua, teori klasik mengenai proses pasar, yang tampaknya belum dipakai secara sistematis dalam pemikiran koperasi.

Model noeklasik standar terdiri dari pasar persaingan sempurna, persaingan monopolistik, oligopoli,, dan monopoli. Pada ujung yang satu tingkat persaingan adalah nol, sedangkan pada ujung lain tingkat persaingan adalah maksimal.

Kinerja pasar berhubungan dengan hasil ekonomis dan non ekonomis yang di tentukan oleh struktur pasar perusahaan yang dihasilkannya. Kinerja dapat dilihat dalam hubungannya dengan dimensi yang berbeda seperti efisiensi ekonomis, mutu produk, kemajuan tekonologi, dan dalam hal koperasi, promosi anggota



.
2.2              Koperasi Dalam Persaingan Sempurna
Persaingan sempurna adalah struktur pasar yang paling banyak digunakan oleh ahli ekonomi. Model persaingannya merupakan dasar analisis dan riset terapan yang halus.
Karakteristik apa yang menyebabkan terjadinya persaingan sempurna dalam suatu industri atau pasar? Asumsi model persaingan adalah sebagai berikut.
1.      Jumlah pembelian dan penjualan yang besar
Jumlah yang besar merupakan gambaran struktural dasar pasar persaingan pasar sempurna. Besar disini, tidak mengacu pada jumlah tertentu. Akan tetapi harus ada cukup perusahaan, sehingga masing-masing perusahaan, sebesar apa pun, hanya pemasok sebagian kecil dari jumlah keselutuhan yang mempengaruhi pasar.
2.      Seluruh perusahaan menjual produk yang identik. Pembelian menganggap produk suatu perusahaan sama dengan produk perusahaan lain.

2.3              Ekuilibrium Usaha Koperasi Dalam Persaingan Sempurna
Tujuan – tujuan usaha koperasi
1.      Memaksimalkan laba
Perusahaan berada dalam kondisi ekuilibrium ketika ia memaksimalkan laba yang didefinisikan perbedaan antara Total Cost (TC) dan Total Revenue (TR). Keadaan ini sama dengan aturan persamaan Marginal Revenue = Mrginal Cost (MR = MC).

2.      Memaksimalkan Output
Asumsi perilaku lainnya adalah memaksimisasi output, dalam konsdisi ini akan terwujud jika Average Cost (AC) = Average Revenue (AR).

3.      Meminimasi Average Cost
Ini merupakan tujuan koperasi untuk memberikan pelayanan kepada anggota dengan tingkat harga yang serendah rendahnya hal ini berarti koperasi memproduksi output pada Average Cost yang minimum.

4.      Kompetitif ekuilibrium
Koperasi berprilaku seperti halnya ia berada didalam struktur pasar yang kompetitif. Dalam persaingan sempurna, ekuilibrium akan di peroleh jika MC = P = AC





BAB III
Penutup

3.1 Kesimpulan
jika koperasi itu ingin berhasil, maka ia harus memberikan paling sedikit manfaat yang sama dengan pasar, bagi para anggotanya, dalam persaingan sempurna, suatu koperasi tidak dapat mempengaruhi/mengendalikan harga. Kurva permintaan bagi koperasi akan sangat elastis, misalnya koperasi dapat menjual sebanyak-banyaknya atau sesedikit mungkin output sebagaimana yang dikehendakinya tanpa mampu mempengaruhi harga.



Daftar Pustaka

Hj. Djatnika, Sri, S.E., M.Si.(2003).Ekonomi Koperasi Teori Dan Manajemen.Jakarta:Salemba Empat


MAKALAH EKONOMI KOPERASI

TUGAS MAKALAH
EKONOMI KOPERASI 3






FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS GUNADARMA
DEPOK
2017




KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmatNYA sehingga makalah ini dapat tersusun hingga selesai . Tidak lupa kami juga mengucapkan banyak terimakasih atas bantuan dari pihak yang telah berkontribusi dengan memberikan sumbangan baik materi maupun pikirannya.
Dan harapan kami semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca, Untuk ke depannya dapat memperbaiki bentuk maupun menambah isi makalah agar menjadi lebih baik lagi.
Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman kami, Kami yakin masih banyak kekurangan dalam makalah ini, Oleh karena itu kami sangat mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.




                                                                                       Depok, Oktober 2017

                                                                                              
Penyusun




DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ......................................................................................... i
DAFTAR ISI ......................................................................................................... ii

BAB I :
PENDAHULUAN ............................................................................................... 1
            1.1 Pendekatan kelembagaan komparatif .................................................. 1
            1.2 Penjelasan tentang ilmu koperasi ........................................................ 2
BAB II :
PEMBAHASAN MASALAH ............................................................................ 3
2.1 Tujuan badan usaha yang berbentuk koperasi ................................................ 3
2.2 Prinsip – prinsip koperasi dan kegiatan Self – Help ....................................... 3
2.3 Permasalahan yang Dihadapi Koperasi di Indonesia Saat Ini ........................ 4

2.4  Mekanisme Pasar Koperasi ........................................................................... 6

BAB III :
PENUTUP ......................................................................................................... 10
3.1 Kesimpulan .................................................................................................. 10
DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................... 11




BAB I
PENDAHULUAN

1.1    Pendekatan kelembagaan komparatif

Seperti dikatakan oleh filsuf Jerman, Emmanuel kant, bahwa “tidak ada sesuatu yang lebih praktis, selain sebuah teori yang baik”. Tanpa teori dan pemahaman empiris yang memadai atas kegiatan koperasi serta konsekuensinya, maka pengukuran kebijakan dan strategi yang dimaksudkan untuk memberikan kontribusi pada pencapaian berbagai tujuan (seperti meningkatkan pendapatan per kapita ) melalui koperasi, akan melahirkan peluang yang baik untuk menjadi Ad Hoc Hyphothesis yang tidak efisien, kontradiktif dan bahkan merugikan.
Koperasi di Negara berkembang, pada umumnya tidak memiliki kesempatan untuk tumbuh secara bertahap serta meningkatkan efisiensi ekonominya agar sejajar dengan pesaing swasta dan ( lembaga ) ekonomi pemerintah (govermental economic competitors ) lainnya.
Adapun alasan penting yang menyebabkan kegagalan koperasi di Negara berkembang, antara lain :
1.      Dasar teoritis – empiris pengetahuan koperasi tradisional yang agak lemah.
2.      Tidak dimilikinya atau tidak digunakannya informasi yang justru secara potensial disediakan oleh pendiri koperasi/institusi yang bersangkutan.
Asumsikan bahwa perusahaan konvensional dan lembaga lainnya memiliki kesempatan yang sama untuk bersaing dengan koperasi. Jika ingin di perlihatkan keistimewaan koperasi dalam situasi bebas masuk di bandingkan dengan lembaga lainnya, harus di buktikan secara teoritis mengapa koperasi lebih kuat atau memiliki keunggulan komparatif


1.2    Penjelasan Tentang Ilmu Koperasi

Hal lain yang masih di butuhkan dalam suatu penjelasan adalah suatu pengaruh campur tangan ( intervening mechanism ), yang menghubungkan antara sebab dan akibat tersebut. Jika di buat proposisi bahwa jumlah beras yang di hasilkan tergantung pada jumlah hujan, maka penjelasannya harus mencakup suatu “ mekanisme produktivitas “ yang menetapkan bagaimana jumlah hujan di hubungkan dengan jumlah beras yang dihasilkan.
Ilmu koperasi merupakan ilmu yang masih lemah (cooperative science still being a soft and often dark science ), karena itu alasan dan argumen harus di jelaskan sejelas dan setransparan mungkin. Konsep teoritis yang jelas, mendorong pada penelaahan yang kritis maupun deduksi yang rasional atas pengukuran kebijakan serta tahap perbaikannya, melalui akumulasi wawasan teoritis dan pengetahuan empiris.
Jika suatu koperasi memberikan pelayanan kepada anggota dengan kondisi yang kurang menguntungkan dibandingkan dengan organisasi pesaing, maka para anggota koperasi akan mengurangi tingkat kegiatannya. Jika manajemen koperasi korupsi, maka anggota koperasi akan meninggalkan koperasi.





BAB II
BADAN USAHA YANG BERBENTUK KOPERASI


2.1   Tujuan utama Koperasi Indonesia

Tujuan utama Koperasi Indonesia adalah mengembangkan kesejahteraan anggota, pada khususnya, dan masyarakat pada umumnya. Koperasi Indonesia adalah perkumpulan orang-orang, bukan perkumpulan modal sehingga laba bukan merupakan ukuran utama kesejahteraan anggota. Manfaat yang diterima anggota lebih diutamakan daripada laba. Meskipun demikian harus diusahakan agar koperasi tidak menderita rugi. Tujuan ini dicapai dengan karya dan jasa yang disumbangkan pada masing-masing anggota.

2.2 Prinsip – prinsip koperasi dan kegiatan Self – Help
Sangat umum dalam literatur koperasi, ditemukan pandangan bahwa koperasi memiliki atau harus memiliki prinsip khusus yang memberikan pedoman, bagi kegiatan koperasi.
Serangkaian prinsip yang sering di kemukakan, adalah tujuh prinsip koperasi yang di kembangkan oleh koperasi modern pertama yang didirikan pada Tahun 1844 oleh 28 orang pekerja Lancashire di Rochdale. Prinsip tersebut  masih menjadi dasar gerakan koperasi international, yaitu :
1.      Keanggotaan terbuka
2.      Satu anggota, satu suara
3.      Pengembalian ( bunga ) yang terbatas atas modal
4.      Alokasi sisa hasil usaha sebanding dengan transaksi yang dilakukan anggota.
5.      Penjualan tunai
6.      Menekankan pada unsur pendidikan
7.      Netral dalam hal agama dan politik.
Menurut kriteria yang dipakai, walaupun seluruh prinsip Rochdale di hilangkan, masih dapat memberikan karakteristik bagi suatu organisasi menurut kriteria lainnya dimana para pemiliknya identik dengan pengguna jasanya sebagai koperasi.
Apa yang diinformasikan oleh prinsip ini merupakan pedoman atau norma, atau nilai yang sering kali atau harus memberikan pedoman bagi kegiatan organisasi yang disebut koperasi itu sendiri.

2.3 Permasalahan yang Dihadapi Koperasi di Indonesia Saat Ini
Koperasi menurut Undang-undang Nomor 25 tahun 1992 ialah bidang usaha yang beranggotakan orang atau badan hukum koperasi dengan melandaskan kegiatannya berdasarkan prinsip koperasi sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang berdasar atas asas kekeluargaan. Dan tujuan koperasi yaitu mensejahterakan para anggotanya serta ikut membangun tatanan perekonomian nasional dalam rangka mewujudkan masyarakat yang maju.
Namun koperasi sendiri sekarang mengalami banyak hambatan yang membuat koperasi lambat dalam berkembang, hambatan tersebut berasal baik dari fasilitas koperasi,anggota, masyarakat,pemerintah, lingkungan maupun pengurus koperasi itu sendiri, padahal koperasi ada penunjang perekonomian karena dengan adanya koperasi UKM diindonesia bisa berkembang pesat sehingga disaat negara mengalami inflasi, UKM bisa menghendel baik dari tenaga kerja maupun devisa negara, adapun masalah yang sering dihadapioleh koperasi diantaranya:
·         Keterbatasan dana yang dimiliki.
·         Tingkat pendidikan, keterampilan dan keahlian yang dimiliki oleh para   anggota terbatas.
·         Partisipasi para anggotanya masih rendah baik dari RAP maupun kegiatan lainnya yang diberikan.
·         Keterbatasan pengetahuan anggota terhadap pembagian SHU.
·         Banyaknya anggota yang tidak mau bekerjasama, bahkan tingkat pengembalian pinjaman yang amat lama sehingga dana / modal koperasi semakin berkurang.
·         Kurangnya pengawasan dari para pengurus koperasi.
·         Kurangnya fasilitas-fasilitas yang dapat menarik perhatian masyarakat dan peminat dari masyarakatnya kurang, karena sebagian masyarakat beranggapan bahwa koperasi kurang menjanjikan.
·         Kurangnya edukasi tentang keuntungan dari koperasi bagi masyarakat.
·         Sedikitnya masyarakat untuk berwirausaha.

Faktor tersebut adalah masalah koperasi yang tiap tahunnya menjadi masalah koperasi yang belum bisa ditangani dengan baik hingga sekarang,tidak menutup kemungkinan koperasi berkembang ada beberapa daerah yang koperasinya bisa berkembang hal ini terjadi karena baik anggota,pengurus koperasi maupun pemerintah bisa saling berkordinasi dan saling bekerja sama dengan baik pasti masalah tersebut bisa ditangani adapun menurut saya solusi yang bisa dilakukan:
1.    Memberikan edukasi kepada masyarakat tentang koperasi baik melalui iklan di tv, spanduk,koran ataupun sera langsung survei ke masyarakat, agar masyarakat percaya dan yakin bahwa koperasi badan usaha yang bagus sekaligus bisa meningkatkan dana/ modal koperasi karena banyak masyarakat yang mau menjadi anggota koperasi dan mau menginvestasikan uangnya kepada koperasi.
2.    Memberikan pendidikan/ pelatihan untuk para anggota koperasi.
3.    Adanya perjanjian hukum agar antar anggota dengan koperasi tidak saling merugikan baik dari pihak anggota maupun koperasi.
4.    Adanya rasa saling percaya dan bertanggung jawab atas kemajua koperasi baik dari pihak anggota maupun dari pihak pengurus atau pengawas koperasi.
5.    Memaksimalkan kerja para pengawas atau pengurus koperasi, karena ini adalah inti dari koperasi, jika pengurus atau pengawasnya tidak bekerja dengan baik seberapa banyak anggota yang ada dikoperasi tidak akan membuat koperasi berkembang.

2.4  Mekanisme Pasar Koperasi

Koperasi merupakan salah satu badan usaha yang ikut berperan dalam mekanisme pasar tertentu baik dipasar input maupun dipasar output. Koperasi akan bersaing di pasar yang komplek dalam rangka memperebutkan atau mempertahankan pelanggan dan menjaga keberlangsungan hidupnya. Pada teori ekonomi mikro klasik, sistem pasar secara sederhana digambarkan dalam sebuah mekanisme sebagai mana terlihat pada gambar 2.3 yang menjelaskan bagaimana mekanisme pasar bekerja. Sektor rumah tangga adalah pemilik dari sumber daya yang dibutuhkan produsen. Sektor rumah tangga akan menjual sumber dayanya untuk mendapatkan uang guna memenuhi kebutuhan dan keinginannya. Sektor rumah tangga menawarkan sumber daya kepada sektor produsen dan sektor produsen melakukan permintaan atas sumber daya tersebut.Hubungan tersebut melahirkan konsep penting dalam ekonomi yaitu konsep pasar sumber daya. Jadi, pasar sumber daya adalah pertemuan antara permintaan produsen akan sumber daya dengan penawaran rumah tangga konsumen akan sumber daya tersebut.

Di pasar eksternal, koperasi dapat berperilaku seperti halnya perusahaan individual, yaitu memaksimumkan keuntungan dari produk yang dijualnya. Koperasi akan membeli barang atau jasa kepada anggota atau nonanggota sebagai input bagi koperasi. Input tersebut dapat dijual kepada anggota dan dapat pula dijual kepada nonanggota. Jika dijual ke anggota, proses transaksi dan aliran barang dan uang akan terjadi di pasar internal. Tetapi jika barang atau jasa dijual kepada nonanggota, maka akan terjadi aliran barang atau jasa dan uang di pasar eksternal.

Dipandang dari aspek pemasaran koperasi, pada dasarnya koperasi mempunyai dua jenis orientasi bisnis, yakni orientasi service dan orientasi keuntungan. Service oriented ditujukan kepada anggota ( di pasar internal ) dan profit oriented ditujukan kepada non-anggota ( di pasar eksternal ). Service oriented di pasar internal harus dimaknai secara khusus, yakni pelayanan perusahaan koperasi yang diarahkan pada peningkatan manfaat keanggotaan. Wujud manfaat keanggotaan dapat dilihat dari pengembangan perusahaan individual anggota atau taraf hidup anggota koperasi akibat peran koperasinya.

Manfaat keanggotaan koperasi bisa dalam wujud manfaat ekonomis dan nonekonomis. Manfaat ekonomi dapat dirasakan secara langsung melalui harga pelayanan dan secara tidak langsung yang berupa pembagian SHU pada akhir periode akuntansi.

Keunggulan bersaing yang berkelanjutan hanya bisa diperoleh apabila koperasi melakukan inovasi terus menerus, mengembangkan modal sosial, melakukan pembelajaran organisasi, dan berusaha menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan yang terjadi.

1.    Inovasi
Inovasi berkaitan dengan proses kreatif dalam menemukan sesuatu yang baru yang dapat mendukung kesuksesan organisasi. Inovasi merupakan kunci sukses utama bagi keberhasilan koperasi dalam meningkatkan kinerjanya. Kesejahteraan anggota hanya bisa tercipta apabila para kooperator bersedia untuk kreatif dan inovatif dalam menemukan sesuatu yang baru dan bermanfaat bagi anggota.

Tekanan persaingan yang semakin hari semakin kuat dan perubahan kebutuhan pelanggan yang sangat cepat mengharuskan perusahaan koperasi menemukan suatu hal yang baru baik berupa metode, produk, maupun pasar guna meraih keunggulan kompetitif. Tugas manajemen koperasi hanyalah membimbing, melatih, memotivasi, mengawasi, dan mengendalikan agar perubahan-perubahan yang diharapkan mengarah pada upaya menghasilkan produk baru yang lebih baik dan lebih  diminati oleh konsumen dipasar eksternal.

2.    Modal sosial
Modal sosial berkaitan dengan keseluruhan sumber actual atau potensial mengenai kepemilikan sebuah jaringan yang tahan lama dari sebuah hubungan kelembagaan berdasarkan pengalaman yang menguntungkan. Modal sosial dapat meningkatkan kapasitas koperasi untuk menggunakan dan menyebarkan sumber daya dalam organisasi. Komponen komponen modal sosial seperti kepercayaan dan interaksi cenderung memperbesar minat anggota untuk berbagi sumber daya dan informasi.

Modal sosial sangat efektif membangun kekuatan ekonomi untuk tumbuh dan memiliki daya tahan lebih kokoh bila didukung oleh gerakan koperasi, sebab gerakan koperasi adalah sebuah gerakan ekonomi yang pasif, yang tidak mengenal kepemilikan tunggal karena dibentuk melalui keanggotaan terbuka dan dapat dikembangkan melalui nilai nilai budaya korporasi sebagai etikanya.

3.    Pembelajaran organisasi koperasi
Pembelajaran ini tidak hanya dalam bentuk pendidikan dan pelatihan anggota secara terprogram tetapi lebih jauh bahwa setiap anggota, pengurus, pengelola dan birokrat koperasi perlu menciptakan, mengintegrasikan dan menerapkan pengetahuan pengetahuan yang diperoleh untuk mencapai tujuan kemakmuran bersama. Dengan demikian pembelajaran organisasi berhubungan dengan kemampuan untuk menciptakan, mengintegrasikan, dan menerapkan pengetahuan. Kemampuan seperti itu sangat penting bagi perusahaan perusahaan yang mengembangkan keunggulan bersaing yang berkelanjutan guna mencapai kinerja yang unggul.

Organisasi koperasi yang melakukan proses pembelajaran dalam system yang terpadu akan menunjukkan bahwa organisasi senantiasa siap bereaksi dan beradaptasi terhadap perubahan, organisasi belajar bagaimana memanfaatkan pengalaman pembelajaran organisasinya untuk menghasilkan strategi yang kreatif, dan kualitas sebuah proses akan tercemin dari adanya berbagai komitmen, termasuk komitmen untuk berkonsensus.

4.    Adaptasi koperasi pada lingkungan
Organisasi koperasi merupakan salah satu unsur dari unsur unsur lainnya yang ada dalam masyarakat yang saling berhubungan, saling tergantung, dan saling mempengaruhi sehingga merupakan satu kesatuan yang kompleks. Dalam mempertahankan kelangsungan hidupnya, organisasi koperasi sebagai system terbuka tidak dapat terlepas dari pengaruh dan ketergantungan lingkungan internal maupun eksternal.
Lingkungan internal berkaitan dengan keseluruhan kondisi yang berasal dalam koperasi seperti sumber daya, kapabilitas dan kompetisi inti yang dimiliki perusahaan. Lingkungan eksternal koperasi terdiri dari lingkungan umum, lingkungan industry dan lingkungan pesaing




BAB III
PENUTUP


KESIMPULAN :
Perlu dukungan dari banyak pihak untuk lebih mengembangkan koperasi. Karena koperasi akan berkembang jika dari anggotanya dapat bergerak untuk mengaktifkan usaha koperasi maka perlu penumbuhan kesadaran akan pentingnya peran anggota dalam kemajuan koperasi.





DAFTAR PUSTAKA


Hj. Djatnika, Sri, S.E., M.Si.(2003).Ekonomi Koperasi Teori Dan Manajemen.Jakarta:Salemba Empat


Jumat, 01 April 2016

Tugas 1 Bahasa Inggris



Daily activity
I get up at 05.00 a.m every morning. After that, I take a bath and after it, pray Subuh. Then, I prepare to go to Campus. I study at the Campus at 8.30 a.m until at 14.30 p.m. I come back to home at 15.00 p.m. and then, I play game. After that, I pray Ashar. After pray, I take a bath. I pray Maghrib, read Qur’an and pray Isya. Then, I have dinner at 19.30 p.m. I study until at 21.00 p.m and I go to bedroom at 22.00 p.m.

Unforgettable Memori

New Year’s celebration
On New Year’s 2016, my big family and I celebrated New Year’s Eve together. We held a big dinner planned by my father and my uncle in my house. Before the celebration, we all prepared what was needed such as ingredients of food, fireworks, trumpet, and sound system.
My brother and I went to the market to buy fireworks. We bought quite a lot of fireworks on that day to enliven our big event. After getting fireworks, we helped my father to prepare sound system at home, while my mother prepared beef  and seasoning to be in roast tonight.
Precisely at 19.00 everything we need was ready. We were just waiting for 23.00 o’clock. We deliberately postponed the dinner time so that we could enjoy the food we made later. While we were waiting, I and my big family joked and laughed together in the living room. At 22:30 we started to prepare the food. My father, Brother and I prepared the Beef to be grilled, while my mother and sister prepared rice, side dishes and drinks. After the Beef was cooked, we ate together while waiting at 00.00. We ate with gusto at that time and we fell so happy to eat together.
At 23:45 we started to prepare the fireworks to be burned. After the time was closed to 12.o’clock, we counted down to set off fireworks. We immediately set off fireworks right along with the turn of the year. We also blew the trumpet to add to the excitement of the evening. It’s amazing to see the fireworks show together with my big family. I hope we can hold this event again next year.

My future

My Name is Danang Aprilyantoso

My dream, to be an enterpreneur. Cause i wanna be a boss not an employee who authorised by someone. If someday i reach my success, i wanna open up for some jobs. Cause i wanna decrease an unemployement in this country. I wanna make some products as well and export them to all over countries. And can be used by people all over the world and can be a pride for Indonesia.

Selasa, 12 Januari 2016

Transportasi Umum Terintegrasi, efektif, Manusiawi

Sebagai ibukota negara dengan penduduk sekitar 10 juta jiwa, Jakarta menjadi kota dengan kepadatan lalu lintas yang tinggi. Kemacetan menjadi pemandangan sehari-hari bagi warga Jakarta. Meskipun begitu, transportasi publik tetap menjadi pilihan warga Jakarta untuk beraktifitas sehari-hari.
Salah satu transportasi publik andalan yang dikelolal oleh Pemda Jakarta adalah sistem bus rapd transit (BRT) TransJakarta atau yang sering disebut sebagai busway. Sejak dioperasikan pada awal tahun 2004, TransJakata terus berkembang dengan menambah jumlah armada dan koridor. Dengan tarif flat Rp 3500 untuk setiap perjalanan, bus TransJakarta selalu disesaki penumpang setiap harinya karena terjangkau dan relatif memiliki waktu tempuh yang lebih singkat karena memiliki jaur tersendiri (busway).
Sejak awal 2012, Badan Layanan Umum Transjakarta dan pemerintah daerah meluncurkan bus Angkutan Perbatasan Terintergrasi Busway atau disebut APTB untuk melayani masyakarat di kota-kota sekitar Jakarta (Bodetabek: Bogor – Depok - Tangerang – Bekasi) yang hendak naik bus Transjakarta menuju ke tempat kerja ataupun tempat-tempat menarik seperti objek wisata, mall dan lain-lain.
Meskipun memiliki jumlah penumpang yang tinggi, namun sistem TransJakarta masih jauh dari sempurna. Para penumpang sering mengeluhkan waktu tunggu yang cukup lama dan bus yang penuh sesak karena kurangnya jumlah armada, terutama di jam-jam sibuk. Sistem tiket yang masih manual serta jalur buswayjuga sering dilewati oleh kendaraan lain, sehingga bus TransJakarta pun terjebak kemacetan karena kurang tertibnya pengguna jalan lain. Pembangunan halte dan jalur busway pun sering menimbulkan kontroversi karena dianggap mematikan angkutan umum lain dan menggusur jalur hijau / median pembatas jalan. Berbagai permasalahan ini coba terus diatasi oleh pemerintah DKI dengan menambah jumlah armada serta sterilisasi jalur busway.

Melihat kebutuhan yang tinggi dari masyarakat Jakarta akan sistem transportasi rapid transit yang nyaman dan dapat diandalkan, maka TransJakarta diharapkan terus berbenah hingga dapat memberikan pelayanan transportasi publik yang terbaik di ibukota.